Jakarta – Sektor pariwisata Indonesia kini tengah bertransformasi menuju pembangunan berkelanjutan. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjadi salah satu pionir yang menginisiasi perubahan ini melalui pengembangan Balkondes Karangrejo di kawasan Borobudur. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan.
Langkah PGN ini sejalan dengan program Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur dan Desa Energi Berdikari (DEB) yang dicanangkan pemerintah. Tujuannya jelas: memastikan manfaat pariwisata dirasakan secara langsung oleh masyarakat, menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan, dan menjaga kelestarian alam.
Energi Bersih dan Pemberdayaan Ekonomi Desa di Balkondes Karangrejo
Di Balkondes Karangrejo, PGN menerapkan sistem Compressed Natural Gas (CNG) untuk sekitar 150 rumah tangga. Selain itu, kawasan wisata ini juga dilengkapi dengan panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik. Inovasi ini menjadikan Karangrejo sebagai model desa wisata yang mengintegrasikan energi bersih, ekowisata, dan ekonomi kreatif.
Transformasi Ekonomi dan Sosial
Transformasi di Karangrejo dimulai dari pengelolaan homestay sederhana, yang kini telah berkembang menjadi ekosistem wisata terpadu. Pada tahun 2024, omzetnya mencapai Rp 3,6 miliar. Sebanyak 80 persen tenaga kerja berasal dari warga lokal yang telah dilatih untuk mengelola homestay, restoran, serta paket wisata.
Paket wisata yang ditawarkan meliputi tur VW Safari, arung jeram, hingga wisata edukasi pertanian. Pendapatan dari sektor wisata ini kemudian dikembalikan kepada masyarakat melalui Pendapatan Asli Desa (PADes), memastikan manfaat ekonomi dinikmati langsung oleh warga.
Perhatian Dunia Internasional
Keberhasilan Balkondes Karangrejo menarik perhatian dunia internasional. PGN memamerkan model ini dalam ajang Discovering the Magnificence of Indonesia (DMI) Expo 2025 di Utrecht, Belanda. Hal ini membuka peluang kerja sama bisnis dan pariwisata antara Indonesia dan Eropa.
Duta Besar Indonesia untuk Belanda, H.E. Mayerfas, menilai langkah ini sebagai momentum penting. Ia menekankan potensi besar pariwisata Indonesia di luar Bali dan pentingnya pengembangan destinasi seperti Borobudur agar mampu bersaing di tingkat regional.
Sejumlah agen perjalanan asal Belanda menunjukkan minat untuk memasukkan Balkondes Karangrejo ke dalam paket wisata mereka, yang diharapkan dapat meningkatkan promosi pariwisata berbasis budaya dan komunitas desa.
Kemandirian dan Gotong Royong
Krisdyan Widagdo Adhi, Division Head Corporate Social Responsibility PGN, menegaskan bahwa keberhasilan Karangrejo tidak hanya tentang angka ekonomi. Lebih dari itu, transformasi ini adalah tentang perubahan sosial dan mentalitas masyarakat.
“Yang paling berharga bukan sekadar peningkatan omzet, tapi lahirnya kemandirian dan semangat gotong royong. Masyarakat kini sadar bahwa potensi desa bisa menjadi sumber kesejahteraan tanpa merusak lingkungan,” ujar Krisdyan.
Dengan semangat yang sama, PGN berharap konsep kemitraan antara masyarakat, pemerintah, dan BUMN ini dapat direplikasi di destinasi wisata lainnya. Tujuannya adalah membangun pariwisata Indonesia yang inklusif, mandiri, dan ramah lingkungan.